Ketika Riyadhoh Para Ulama Terasa Asing bagi Kita

  • Kamis, 19 Maret 2026
  • 6 views

PPM.ALHADI–Ketika membaca kembali lembaran-lembaran akhlak para ulama terdahulu yang tercatat dalam kitab Tanbihul Mughtarrin karya Imam Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali Asy-Sya’rani, sering kali kita dibuat merasa asing, sekaligus takjub.

Di dalam kitab tersebut, kita menemukan banyak kisah tentang bagaimana para ulama menjalani kehidupan yang bagi kita terasa begitu jauh dari kebiasaan zaman sekarang. Mereka dengan rela meninggalkan kehidupan mewah, bahkan terkadang menghindari jabatan dan kedudukan yang sebenarnya mudah mereka raih.

Ada pula di antara mereka yang justru melakukan hal-hal yang membuat orang lain memandang rendah dirinya ketika mereka mulai merasa dihormati secara berlebihan.

Sebagian dari mereka menangis ketika dipuji, karena merasa bahwa orang lain hanya melihat penampilan lahirnya saja, sementara aib dan kelemahan batin mereka tidak diketahui siapa pun. Ada pula ulama yang mampu menyembunyikan amal ibadahnya selama puluhan tahun, bahkan dari keluarganya sendiri, karena takut niatnya tercampuri oleh keinginan untuk dipuji.

Tidak sedikit pula kisah tentang mereka yang memilih hidup dalam kesederhanaan dan kesulitan, bukan karena mereka tidak mampu hidup nyaman, melainkan karena mereka khawatir bahwa kemudahan dan kenikmatan dunia dapat perlahan memalingkan hati mereka dari Allah.

Semua kisah ini sering kali membuat kita terheran-heran. Bagi kita yang hidup di zaman yang serba mudah, nyaman, dan penuh fasilitas, sikap hidup para ulama tersebut kadang terasa tidak masuk akal, bahkan tampak ekstrem.

Namun suatu ketika guru kami, Abah Anis Masduqi Lc, M.si, pernah menyampaikan sebuah pesan yang sangat membekas. Beliau mengatakan bahwa sering kali kita merasa asing atau bahkan heran terhadap pengalaman spiritual para ulama terdahulu, bukan karena mereka terlalu jauh dari kita, melainkan karena kita sendiri belum pernah benar-benar mencoba menapaki jalan yang mereka lalui.

Kita membaca kisah mereka, tetapi tidak pernah merasakan perjalanan batin yang membawa mereka sampai pada titik tersebut.

Di kesempatan lain, salah seorang guru kami, Gus Akmal Naseery juga pernah berpesan bahwa apabila kita melihat berbagai amaliah dan riyadhoh para ulama terdahulu, sejatinya semua itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Para ulama sebenarnya sangat mampu untuk hidup dengan penuh fasilitas dan berbagai bentuk kemudahan dunia. Akan tetapi mereka memilih jalan yang berbeda sebagai cara untuk melepaskan keterikatan hati mereka dari dunia.

Yang sering luput kita sadari adalah bahwa semua riyadhoh tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Para ulama tidak langsung melompat pada kesimpulan bahwa mereka harus menjalani kehidupan yang keras dan penuh tirakat. Semua itu merupakan buah dari perjalanan panjang yang mereka jalani sepanjang hidupnya, hingga mereka sampai pada suatu kesadaran tentang hakikat dunia dan kelemahan hati manusia.

Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan pilihan-pilihan hidup yang tampak berat dari luar.
Namun dalam kenyataan kehidupan beragama hari ini, tidak jarang kita justru berhenti pada kekaguman semata terhadap kisah-kisah tersebut. Kita terkagum-kagum dengan kerasnya riyadhoh para ulama, dengan betapa jauh mereka menjaga diri dari dunia, atau dengan betapa tersembunyinya amal-amal yang mereka lakukan.

Tanpa disadari, kekaguman itu kadang berubah menjadi keinginan untuk meniru secara langsung bentuk-bentuk lahiriah dari amalan mereka.

Di sinilah sering kali terjadi kesalahpahaman. Kita mencoba meniru riyadhoh para ulama, tetapi tidak menapaki jalan kesadaran yang membawa mereka sampai kepada riyadhoh tersebut. Kita meniru bentuk amalnya, tetapi belum memahami kegelisahan batin yang melahirkan amal itu.

Akibatnya, yang tersisa hanyalah bentuk luar dari amalan, sementara ruhnya perlahan menghilang.
Barangkali karena itulah kisah-kisah para ulama terdahulu terasa begitu jauh bagi kita hari ini.

Bukan semata-mata karena amalan mereka terlalu berat, melainkan karena cara kita memandang amalan itu sendiri telah berubah. Kita lebih mudah terpikat pada bentuknya, daripada berusaha memahami makna yang melatarbelakanginya.

Di tengah kondisi seperti ini, bulan Ramadan sebenarnya hadir sebagai kesempatan yang sangat berharga. Ramadan bukan hanya bulan untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga bulan untuk kembali meninjau makna dari ibadah itu sendiri.

Puasa tidak hanya berarti menahan lapar dan dahaga. Demikian pula qiyamul lail tidak sekadar berarti berdiri lama dalam shalat. Ramadan mengajak kita untuk berhenti sejenak dari kebiasaan menjalani ibadah secara otomatis.

Ramadan mengajak kita untuk bertanya kembali kepada diri sendiri: untuk apa semua ini kita lakukan? Apa yang sebenarnya kita cari dari setiap amal yang kita kerjakan?

Bisa jadi, Ramadan justru menjadi momen untuk kembali menapakkan langkah pertama yang dahulu dilalui oleh para ulama: yaitu langkah mengenali diri sendiri, menyadari kelemahan hati, dan perlahan melepaskan keterikatan yang selama ini kita anggap biasa.

Karena pada akhirnya, yang mengantarkan para ulama terdahulu sampai pada kedalaman spiritual bukan semata-mata beratnya riyadhoh yang mereka jalani, melainkan kejujuran mereka dalam memandang diri sendiri di hadapan Allah.

Dan mungkin di situlah pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari kisah-kisah mereka.
Bukan sekadar meniru kerasnya riyadhoh mereka, tetapi meneladani kesungguhan mereka dalam mencari kebenaran tentang diri sendiri.

Dan dari situlah perjalanan spiritual sebenarnya dimulai.

Oleh: PPM Alhadi

Admin Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Hadi, Arumdalu, Krapyak Wetan, RT 08, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Hubungi Kami

Hubungi Kami jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar PPM Al-Hadi, Kami akan dengan senang hati membantu Anda