Ramadan Tidak Benar-Benar Pergi; Refleksi Lebaran Sebelum Menyendok Kuah Opor

  • Jumat, 20 Maret 2026
  • 5 views

PPM.ALHADI–Paham apa kita soal perpisahan? Kita menganggap sesuatu atau seseorang yang pamit berpisah artinya ia telah hilang. Padahal, perpisahan tidak pernah seperti itu. Sesuatu yang kita anggap pergi selalu meninggalkan jejaknya. Bahkan, tak jarang bekasnya begitu dalam, sehingga yang ia tinggalkan jauh lebih besar dan abadi dari yang pergi itu sendiri. Ramadan adalah salah satunya.

Maka, bukan “Selamat tinggal, Ramadan” (atau, silahkan saja dengan kalimat ini, jika njen semua mau berpisah dengan kemesraan bersama Allah). Lebih pas, “Selamat datang, kehidupan yang telah kita mulai di bulan Ramadan.” Sebab seorang mukmin tidak akan meninggalkan satu ketaatan kecuali untuk beralih kepada ketaatan lainnya,
dan tidak pernah menutup satu pintu kebaikan kecuali ia telah membuka pintu-pintu kebaikan lain dalam hatinya.

Yang benar-benar berakhir hanya kalendernya. Sedangkan sekolahnya, masih dan akan terus berlangsung.Ya, sekolah. Para ulama’ menamai Ramadan dengan sebutan madrasah. Layaknya sekolah yang baik, Ramadan tidak akan berhenti mengajari kita hanya karena kita sudah melewati ujian akhirnya.

Di Madrasah Ramadan, kita belajar menahan diri dari yang halal. Dari makan, dari minum, dari hal-hal yang sesungguhnya boleh-boleh saja kita lakukan. Sebulan penuh, dan kita mampu. Lantas, kalau dari yang halal saja kita sanggup menahan diri, mengapa kita begitu mudah menyerah pada yang haram?

Kemudian, Al-Qur’an. Betapa di bulan Ramadan ia begitu ramai dikunjungi. Mushaf-mushaf terbuka, suara-suara melantun, air mata tak jarang menetes di halaman-halamannya. Tapi begitu lebaran tiba, sering kali ia kembali ke posisi semula, di rak yang paling tinggi (Bukan dalam rangka memuliakannya, tapi karena ia justru diasingkan hingga berdebu). Sungguh, ironi.

Hei, jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabat. Apakah sahabat yang baik pantas dijenguk hanya setahun sekali. Jika kau jadikan ia sebagai sahabatmu, niscaya ia akan membukakan rahasianya kepadamu, ia akan menghiburmu kala sedihmu, ia akan menunjukkan mana yang baik bagimu. Bersahabatlah…, duhai kita.

Maka inilah yang hendaknya kita pegangi. Jadikan Idulfitri sebagai titik awal, bukan garis akhir. Sebab yang kita rayakan seharusnya bukan selesainya Ramadan, melainkan lahirnya sebuah versi diri kita yang — mudah-mudahan — lebih baik dari sebelumnya.

Ambil-lah dari Ramadan itu akhlak memaafkan. Dari puasa, sebuah kesabaran. Dari salat, kenikmatan bermesra dekat dengan-Nya. Lanjutkan semuanya, semua jawaban kita terhadap panggilan cinta-Nya.

Tuhan yang menemani kita di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama yang akan menemani kita di bulan-bulan sesudahnya.


«العبرة ليست فيمن صام وقام فحسب، بل العبرة فيمن قُبِلت توبته واستقام.»

Ibrah bukan bagi siapa yang rajin berpuasa dan salat malam. Tetapi bagi mereka yang tobatnya diterima, dan mampu istiqamah

Ini adalah tulisan terakhir saya sebagai santri PPM Al-Hadi Yogyakarta. Semoga, sama halnya dengan Ramadan yang tak pernah benar-benar pergi, apa yang sudah saya laku dan tuliskan, menjadi catatan baik yang bermanfaat untuk saya dan para pembaca semuanya. Terimakasih…,

Selamat Idulfitri. Semoga kita tidak benar-benar melepas Ramadan. Semoga ia hanya berpindah, dari kalender ke dalam diri kita.

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir & Batin. Selamat menuang kuah opornya… : )

Oleh: PPM Alhadi

Admin Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Hadi, Arumdalu, Krapyak Wetan, RT 08, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Hubungi Kami

Hubungi Kami jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar PPM Al-Hadi, Kami akan dengan senang hati membantu Anda