Ngaji Pasanan PPM Al-Hadi Bahas Sikap Ulama Salaf Mendahulukan Keselamatan Agama daripada Dunia.

  • Minggu, 8 Maret 2026
  • 3 views

PPM.ALHADI–Yogyakarta (Selasa, 3 Maret 2016/14 Ramadhan 1447 H) – Pengajian Ngaji Pasanan di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al-Hadi Yogyakarta kembali digelar dengan mengkaji kitab Tanbihul Mughtarin karya ulama sufi Abdul Wahhab asy-Sya’rani.

Pada kesempatan tersebut, Abah membahas salah satu akhlak penting para ulama terdahulu, yaitu mendahulukan keselamatan agama daripada keuntungan dunia.

Pengajian diawali dengan pembacaan teks kitab:
وَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ – تَقْدِيمُهُمُ السَّلَامَةَ عَلَى الْغَنِيمَةِ مِنْ حَيْثُ رَفْضُ الدُّنْيَا وَفَرَاغُ يَدِهِمْ مِنْهَا
“Di antara akhlak mereka adalah mendahulukan keselamatan daripada keuntungan, dengan cara meninggalkan dunia dan tidak menggenggamnya.”

Dalam penjelasannya, Abah menyampaikan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam urusan dunia. Mereka lebih memilih hidup sederhana dan menjaga diri dari perkara syubhat daripada mengumpulkan harta, meskipun harta tersebut nantinya akan disedekahkan.

Dalam kitab juga disebutkan ungkapan yang menggambarkan sikap tersebut:
كَانُوا يُقَدِّمُونَ فَرَاغَ أَيْدِيهِمْ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى جَمْعِهَا وَإِنْفَاقِهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka lebih memilih tangan yang kosong dari dunia daripada mengumpulkannya lalu menafkahkannya di jalan Allah.”

Menurut Abah, sikap ini bukan berarti menolak sedekah, melainkan bentuk kehati-hatian para ulama agar tidak menanggung tanggung jawab harta yang mungkin mengandung unsur haram atau syubhat.

Dalam kitab juga dikutip perkataan tokoh sufi besar Junayd al-Baghdadi:
تَجْرِيدُ الْعَبْدِ مِنَ الدُّنْيَا أَفْضَلُ مِنْ جَمْعِهَا وَالْإِنْفَاقِ مِنْهَا
“Melepaskan diri dari dunia lebih utama daripada mengumpulkannya lalu menafkahkannya.”

Abah menjelaskan bahwa sebagian ulama bahkan menolak menerima harta untuk dibagikan kepada fakir miskin. Mereka beralasan bahwa orang yang mengumpulkan harta tersebutlah yang seharusnya membagikannya, karena boleh jadi di dalamnya terdapat unsur yang tidak jelas kehalalannya.

Dalam pembahasan tersebut juga disampaikan pandangan Hasan al-Basri yang mengatakan bahwa orang yang benar-benar memusatkan diri untuk beribadah kepada Allah lebih utama daripada orang yang meninggalkan ibadah demi mencari nafkah bagi keluarganya.

Selain itu, Abah juga mengutip perkataan tokoh sufi Ibrahim ibn Adham yang menggambarkan perbedaan sikap manusia terhadap dunia. “Antara kalian dan para ulama terdahulu terdapat perbedaan yang jauh. Ketika dunia datang kepada mereka, mereka justru lari darinya. Sedangkan ketika dunia menjauh dari kalian, kalian justru mengejarnya.”

Perkataan lain juga disampaikan dari Fudayl ibn Iyad yang mengingatkan bahwa kecintaan kepada dunia akan menimbulkan kepahitan dalam kehidupan spiritual seseorang.

Dalam beberapa riwayat tasawuf bahkan disebutkan nasihat keras dari Malik ibn Dinar tentang jalan menuju derajat para siddiqin, yakni dengan melepaskan keterikatan hati terhadap keluarga, harta, dan kenikmatan dunia.

Pengajian juga menyinggung sebuah kisah tentang Isa ibn Maryam. Dikisahkan bahwa suatu malam beliau melihat seseorang sedang tidur sementara orang lain bangun melaksanakan salat. Ketika dibangunkan, orang tersebut berkata bahwa ia telah beribadah kepada Allah dengan ibadah terbaik, yaitu meninggalkan kecintaan terhadap dunia.

Mendengar hal itu, Nabi Isa berkata agar ia tetap tidur, karena dengan kezuhudannya ia telah mengungguli para ahli ibadah.

Menutup pengajian, Abah mengingatkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari jumlahnya, tetapi dari kualitas hati seseorang. Ia mengutip kaidah ulama yang menegaskan bahwa keutamaan amal bergantung pada keadaan hati pelakunya.

إِنَّمَا تَتَفَاضَلُ الْأَعْمَالُ بِتَفَاضُلِ مَا فِي الْقُلُوبِ

“Keutamaan amal ditentukan oleh perbedaan kualitas hati yang ada di dalamnya.”

Dengan demikian, sedekah kecil dari orang yang tidak memiliki harta bisa lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan sedekah besar dari orang yang kaya.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama serta harapan agar para santri mampu meneladani sikap para ulama dalam memandang dunia secara bijak, menjadikannya sebagai sarana ibadah, bukan sebagai tujuan hidup.

Oleh: PPM Alhadi

Admin Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Hadi, Arumdalu, Krapyak Wetan, RT 08, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Hubungi Kami

Hubungi Kami jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar PPM Al-Hadi, Kami akan dengan senang hati membantu Anda