
PPM.ALHADI–Yogyakarta (Jum’at, 6 Maret 2016/16 Ramadhan 1447 H) – Pengajian Ngaji Pasanan di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al-Hadi Yogyakarta kembali dilanjutkan dengan kajian kitab Tanbihul Mughtarin karya ulama sufi terkemuka Abdul Wahhab asy-Sya’rani.
Pada pertemuan kali ini, Abah membahas salah satu akhlak para ulama dan orang-orang saleh, yaitu kecenderungan mereka memilih kehidupan yang penuh perjuangan dan ujian dibandingkan kehidupan yang penuh kemudahan dan kenikmatan.
Dalam penjelasannya, Abah menegaskan bahwa para ulama terdahulu justru memandang kesulitan hidup sebagai sarana untuk menjaga kedekatan dengan Allah. Ketika hidup dipenuhi berbagai ujian, seseorang akan lebih banyak berzikir, berdoa, dan memohon pertolongan kepada-Nya.
Sebaliknya, kemudahan hidup yang berlebihan sering kali membuat manusia lalai dan kehilangan semangat spiritual.
Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam teks kitab yang dikaji:
وَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ – رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ – اخْتِيَارُهُمُ الشِّدَّةَ وَالْبَلَاءَ عَلَى النِّعْمَةِ وَالرَّخَاءِ، لِأَنَّ بِذَلِكَ يَدُومُ تَوَجُّهُهُمْ إِلَى الله تَعَالَى، وَمَنْ أَحَبَّ اللهَ أَحَبَّ مَا يُقَرِّبُهُ إِلَيْهِ وَيُذَكِّرُهُ بِهِ.
Artinya, di antara akhlak orang-orang saleh adalah memilih kesulitan dan ujian dibandingkan kenikmatan dan kelapangan hidup, karena dengan keadaan tersebut perhatian mereka kepada Allah akan terus terjaga. Barang siapa mencintai Allah, maka ia akan mencintai segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada-Nya.
Abah kemudian menjelaskan bahwa kesulitan hidup sering kali menjadi sarana yang lebih efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kondisi serba terbatas, manusia akan lebih mudah mengingat Allah dibandingkan ketika hidup dalam kelapangan dan kemewahan yang berpotensi melalaikan.
Sebagai penguat, Abah mengutip perkataan Wahb ibn Munabbih yang menyatakan bahwa seseorang belum dianggap benar-benar memahami agama apabila ia tidak mampu memandang kesulitan sebagai nikmat dan kelapangan sebagai ujian.
وَكَانَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ – رَحِمَهُ اللهُ – يَقُولُ: مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلَاءَ نِعْمَةً وَالرَّخَاءَ مُصِيبَةً فَلَيْسَ بِفَقِيهٍ.
Selain itu, Abah juga menuturkan kisah seorang ulama zuhud, Malik bin Dinar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika beberapa orang berkunjung kepadanya dan mendapati ia duduk di rumah yang gelap tanpa lampu, sementara di tangannya hanya terdapat sepotong roti kering.
وَقَدْ دَخَلَ جَمَاعَةٌ عَلَى مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ – رَحِمَهُ اللهُ – وَهُوَ جَالِسٌ فِي بَيْتٍ مُظْلِمٍ وَفِي يَدِهِ رَغِيفٌ.
Ketika ditanya mengapa hidup dalam keadaan yang begitu sederhana, Malik bin Dinar justru menjawab dengan penuh kesadaran bahwa dirinya sedang menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu.
Abah menjelaskan bahwa kisah tersebut menggambarkan sikap para ulama terdahulu yang tidak menjadikan kesederhanaan hidup sebagai beban, melainkan sebagai sarana untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kesempatan tersebut, Abah juga mengutip nasihat dari Hasan al-Basri yang memperingatkan bahwa kelapangan hidup bisa saja menjadi bentuk ujian dari Allah.
Menurut Abah, kenikmatan dunia tidak selalu identik dengan kebaikan. Apabila tidak disertai dengan kewaspadaan spiritual, kenikmatan tersebut justru dapat menjadi sebab seseorang jauh dari Allah.
وَكَانَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ – يَقُولُ: مَنْ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَلَمْ يَخَفْ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مَكْرًا بِهِ فَقَدْ أَمِنَ مَكْرَ اللهِ.
Dalam bagian lain, Abah juga menyinggung perumpamaan yang disampaikan oleh Rabi’ ibn Anas tentang seekor lalat yang hidup selama ia lapar, namun akan mati ketika terlalu kenyang.
إِنَّ الْبَعُوضَةَ تَحْيَا مَا جَاعَتْ، فَإِذَا شَبِعَتْ سَمِنَتْ وَإِذَا سَمِنَتْ مَاتَتْ، وَكَذَا ابْنُ آدَمَ إِذَا امْتَلَأَ مِنَ الدُّنْيَا مَاتَ قَلْبُهُ.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa hati manusia dapat “mati” apabila terlalu dipenuhi oleh kenikmatan dunia.
Abah kemudian menegaskan bahwa para ulama sepakat bahwa kesempurnaan kenikmatan di akhirat tidak akan dapat diraih tanpa adanya pengurangan kenikmatan di dunia.
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ وَالْحُكَمَاءُ وَالشُّعَرَاءُ عَلَى أَنَّ كَمَالَ النَّعِيمِ فِي الْآخِرَةِ لَا يُدْرَكُ إِلَّا بِنَقْصِ النَّعِيمِ فِي الدُّنْيَا.
Dalam lanjutan kajian, Abah juga menjelaskan hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menggambarkan kesadaran beliau akan dekatnya hari kiamat.
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الصُّورِ قَدِ الْتَقَمَ الصُّورَ وَأَصْغَى بِسَمْعِهِ وَحَنَى بِجَبْهَتِهِ يَنْتَظِرُ مَتَى يُؤْمَرُ فَيَنْفُخُ.
Hadis tersebut menggambarkan bahwa Malaikat Israfil telah bersiap meniup sangkakala dan hanya menunggu perintah dari Allah. Kesadaran akan dekatnya hari kiamat inilah yang membuat para ulama terdahulu tidak terlena dengan kenikmatan dunia.
Pada bagian akhir kajian, Abah juga menyinggung salah satu etika para ulama dalam kehidupan sosial. Apabila seseorang datang meminta nasihat atau bantuan kepada mereka, sementara di daerah orang tersebut sudah terdapat seorang ulama, maka mereka akan mengarahkan orang tersebut kembali kepada ulama yang berada di daerahnya.
وَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ – إِذَا سَأَلَهُمْ أَحَدٌ فِي حَاجَةٍ وَهُوَ فِي حَارَةِ شَيْخٍ مِنْ مَشَايِخِ عَصْرِهِ أَنْ يَرُدُّوهُ إِلَى ذَلِكَ الشَّيْخِ الَّذِي فِي حَارَتِهِ.
Menurut Abah, sikap tersebut mencerminkan kerendahan hati para ulama sekaligus bentuk penghormatan terhadap sesama ahli ilmu. Dengan cara itu, para ulama tidak memonopoli peran keilmuan dan tetap memberikan ruang kepada ulama lain untuk membimbing masyarakat di lingkungannya.
Pengajian kemudian ditutup dengan refleksi bahwa kehidupan para ulama terdahulu sarat dengan kesederhanaan, kerendahan hati, serta kesadaran spiritual yang mendalam. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para santri untuk menata sikap hidup yang lebih sederhana, tawadhu’, dan berorientasi pada kedekatan kepada Allah.
Melalui penghayatan terhadap teladan para ulama tersebut, diharapkan para santri mampu menumbuhkan semangat perjuangan dalam menuntut ilmu sekaligus menjaga keikhlasan dalam beramal di tengah tantangan kehidupan zaman modern.
