Ngaji Pasanan Kitab Tanbīhul Mughtarrīn (Eps.1)

  • Jumat, 27 Februari 2026
  • 9 views

PPM.ALHADI–Yogyakarta (19/02/2026, pukul: 20.30-21.30) – Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al-Hadi Yogyakarta menggelar Ngaji Pasanan perdana dalam Bulan Ramadan dengan pembahasan kitab Tanbihul Mughtarin, karya ulama sufi besar Abdul Wahhab asy-Sya’rani. Pengajian yang dilaksanakan seusai salat Isya tersebut diikuti dengan antusias oleh para santri.

Dalam pembukaan kajian, Abah langsung memasuki pembahasan halaman ke-79 dengan tema:
وَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ عَدَمُ غَفْلَتِهِمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِمْ
“Dan termasuk akhlak mereka adalah tidak lalai dari mengingat Allah Ta‘ala dalam seluruh keadaan mereka.”

Abah menjelaskan bahwa para ulama salaf tidak pernah membiarkan satu pun majelis berlalu tanpa zikir dan selawat kepada Rasulullah SAW. Dalam kitab tersebut juga ditegaskan bahwa majelis yang kosong dari zikir akan menjadi penyesalan di akhirat, selaras dengan hadis Nabi:

لا يجلس قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً
“Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis tanpa mengingat Allah dan berselawat kepada Nabi mereka kecuali akan menjadi penyesalan (kekurangan) bagi mereka.”

Menurut Abah, zikir merupakan ibadah yang paling ringan namun memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Beliau menekankan bahwa zikir bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, bahkan cukup dengan hati. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)


Dalam penjelasannya, Abah membedakan antara ilmu muamalah (dimensi lahiriah seperti salat dan sedekah) dan ilmu mukasyafah (dimensi batiniah seperti ikhlas dan khusyuk). Ibadah lahiriah, menurutnya, tidak akan sempurna tanpa pembinaan hati melalui zikir.

Ia menegaskan bahwa salat yang hanya memenuhi syarat dan rukun belum tentu berdampak pada perilaku jika tidak disertai kekhusyukan hati.

Abah juga mengutip perkataan ulama seperti Hasan al-Basri yang menekankan bahwa Allah tidak membatasi zikir pada tempat tertentu. Jika zikir diwajibkan hanya di lokasi khusus sebagaimana haji, tentu akan memberatkan umat. Namun Allah memudahkan hamba-Nya dengan membebaskan zikir dari batasan ruang dan waktu.

Kisah para ulama sufi seperti Fudayl ibn Iyad dan Ibrahim ibn Adham turut disampaikan sebagai teladan dalam menjaga hati dari kelalaian. Mengingat Allah, menurut Abah, adalah “obat” bagi penyakit hati seperti hasad, riya, dan takabur.

Abah kemudian mengingatkan hadis Nabi tentang pentingnya hati sebagai pusat kebaikan dan keburukan:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

Suasana pengajian berlangsung khidmat namun tetap hangat dengan selingan nasihat yang menyentuh. Di akhir kajian, Abah menutup dengan doa agar para santri mampu menjaga waktu mereka dengan memperbanyak zikir dan selawat, sehingga ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga hidup secara spiritual.

Ngaji Pasanan ini diharapkan menjadi momentum pembinaan rohani bagi santri PPM Al-Hadi, khususnya dalam meneladani akhlak para ulama salaf yang senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap detik kehidupan mereka.

Oleh: PPM Alhadi

Admin Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Hadi, Arumdalu, Krapyak Wetan, RT 08, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Hubungi Kami

Hubungi Kami jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar PPM Al-Hadi, Kami akan dengan senang hati membantu Anda