Zuhud dan Qana’ah: Menempatkan Dunia pada Tempatnya -Ngaji Pasanan Kitab Tanbīhul Mughtarrīn

  • Kamis, 19 Maret 2026
  • 5 views

PPM.ALHADI–Yogyakarta (06/03/2026)-Rangkaian Ngaji Pasanan Ramadan di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al-Hadi Yogyakarta terus berlanjut dengan pembahasan kitab Tanbīhul Mughtarrīn karya ulama sufi Syekh Abdul Wahhab Al-Shaarani.

Pada malam ke-sekian, para santri memasuki pembahasan halaman 90 yang memuat peringatan penting tentang sikap manusia terhadap dunia serta ajakan untuk menumbuhkan sifat qana’ah dan hidup sederhana.

Pengajian yang dilaksanakan setelah salat Isya tersebut berlangsung dengan penuh perhatian dari para santri. Dalam pembahasan ini, dijelaskan berbagai riwayat hadis serta nasihat para ulama mengenai bahaya kecintaan berlebihan terhadap dunia dan pentingnya membangun sikap zuhud dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penjelasan tersebut, para santri diajak untuk memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sehingga orientasi utama seorang muslim seharusnya tetap tertuju pada kehidupan akhirat.

Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi dengan keinginan terhadap harta, kenyamanan, dan berbagai bentuk kemewahan, manusia sering kali tanpa sadar menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan dan mengejar kenikmatan dunia, hingga melupakan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat.

Islam sejak awal telah mengingatkan umatnya agar tidak terperdaya oleh gemerlap dunia. Dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga tidak boleh menjadi pusat perhatian hati manusia. Karena itu, para ulama banyak memberikan nasihat tentang pentingnya sikap zuhud dan qana’ah dalam menjalani kehidupan.

Pembahasan tentang zuhud dan qana’ah merupakan bagian penting dalam kajian akhlak Islam. Dalam berbagai literatur terdahulu, para ulama sering menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang tidak seharusnya dijadikan tujuan utama kehidupan. Dunia tetap memiliki peran dalam kehidupan manusia, tetapi posisinya hanya sebagai sarana menuju kehidupan akhirat.

Nasihat tentang sikap terhadap dunia banyak ditemukan dalam kitab-kitab ulama terdahulu. Salah satunya terdapat dalam Tanbih al-Mughtarrin karya Syekh Abdul Wahhab Al-Shaarani. Dalam kitab tersebut dijelaskan berbagai riwayat hadis, atsar sahabat, serta perkataan para ulama salaf yang mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh kehidupan dunia.

Secara umum, terdapat tiga pokok pembahasan utama dalam kajian tersebut, yaitu qana’ah sebagai pembatasan diri, pemahaman tentang kehinaan dunia, serta praktik zuhud dalam kehidupan sehari-hari.

Qana’ah sebagai Pembatasan Diri

Qana’ah merupakan sikap merasa cukup terhadap apa yang dimiliki. Dalam ajaran akhlak Islam, qana’ah tidak diartikan sebagai kemiskinan atau penolakan terhadap rezeki, melainkan sebagai kemampuan untuk mengendalikan diri dari sikap berlebihan.

Beberapa hadis menjelaskan bahwa manusia sebenarnya tidak membutuhkan makanan dalam jumlah besar. Beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tubuh. Pesan ini menunjukkan pentingnya etika konsumsi serta pengendalian diri dalam kehidupan.

Dalam berbagai kisah ulama salaf juga dijelaskan bahwa banyak di antara mereka yang memilih hidup sederhana dan membatasi konsumsi makanan sehari-hari. Sikap ini dimaksudkan untuk menjaga hati agar tidak bergantung pada kenikmatan dunia.

Selain itu, mengumpulkan harta secara berlebihan juga dipandang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti panjang angan-angan, ketamakan, serta kelalaian terhadap kehidupan akhirat.

Kehinaan Dunia dan Bahaya Cinta Dunia

Pembahasan berikutnya menekankan bahwa dunia pada hakikatnya memiliki nilai yang rendah apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Dalam beberapa hadis, dunia bahkan diumpamakan dengan sesuatu yang tidak memiliki nilai yang berarti.

Perumpamaan seperti bangkai kambing atau sayap nyamuk menggambarkan bahwa dunia tidak memiliki kemuliaan hakiki di sisi Allah. Sikap Nabi Muhammad ﷺ yang tidak terikat pada dunia menjadi teladan bagi umat Islam untuk menempatkan dunia secara proporsional.

Beberapa ulama seperti Hasan al-Basri dan Wahb bin Munabbih bahkan menyatakan bahwa cinta dunia merupakan akar dari berbagai kesalahan moral. Ketika hati terlalu terpaut pada dunia, seseorang dapat menjadi sombong, takut kehilangan kedudukan, serta mudah terjerumus dalam berbagai penyimpangan.

Karena itu, yang menjadi persoalan utama bukanlah kepemilikan dunia itu sendiri, melainkan keterikatan hati terhadap dunia.

Praktik Zuhud dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai zuhud tidak hanya dijelaskan dalam bentuk nasihat, tetapi juga dicontohkan dalam kehidupan para nabi, sahabat, dan ulama.

Nabi Muhammad ﷺ dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dan tidak berlebihan dalam hal makanan maupun gaya hidup. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau pernah menahan lapar sebagai bentuk kesabaran dan pengendalian diri.

Teladan tersebut kemudian diikuti oleh para sahabat dan ulama setelahnya. Tokoh-tokoh seperti Umar ibn al-Khattab, Abu Hanifah, Malik ibn Anas, serta Muhammad al-Bukhari sering disebut sebagai contoh generasi yang menjaga kesederhanaan hidupnya.

Pembatasan makan dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga dipahami sebagai latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu serta menjaga kejernihan hati.

Zuhud dalam ajaran Islam tidak berarti menolak dunia sepenuhnya. Sebaliknya, dunia tetap dimanfaatkan sebagai sarana kehidupan, tetapi tidak dibiarkan menguasai hati manusia.

Menjaga Hati dari Keterikatan Dunia

Dari berbagai ajaran tersebut dapat dipahami bahwa qana’ah, kesadaran tentang rendahnya nilai dunia, serta praktik kesederhanaan hidup merupakan satu kesatuan dalam pembentukan akhlak Islam.

Qana’ah berfungsi sebagai dasar pengendalian diri, pemahaman tentang kehinaan dunia menjadi landasan untuk tidak terperdaya olehnya, sedangkan praktik zuhud menjadi bentuk nyata dari penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, ajaran zuhud tidak menolak dunia sepenuhnya. Dunia tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana kehidupan, tetapi seorang muslim diharapkan mampu menjaga hatinya agar tidak terikat secara berlebihan pada kenikmatan dunia.

Pada akhirnya, ajaran tentang zuhud dan qana’ah bukanlah ajakan untuk meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tetap membolehkan umatnya bekerja, memiliki harta, dan menikmati rezeki yang halal. Namun yang terpenting adalah menjaga hati agar tidak terikat secara berlebihan pada kenikmatan dunia.

Dengan menumbuhkan sikap qana’ah, memahami hakikat dunia yang sementara, serta meneladani kesederhanaan para nabi dan ulama, seorang muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih seimbang. Dunia dimanfaatkan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan, sementara hati tetap diarahkan kepada tujuan yang lebih utama, yaitu kehidupan akhirat.

Melalui pemahaman inilah, manusia dapat menjaga dirinya dari berbagai godaan dunia dan tetap berjalan di jalan yang diridhai oleh Allah.

Oleh: PPM Alhadi

Admin Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Al-Hadi, Arumdalu, Krapyak Wetan, RT 08, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Hubungi Kami

Hubungi Kami jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar PPM Al-Hadi, Kami akan dengan senang hati membantu Anda